GP Ansor Jepara Gelar Istighotsah di Pantai Kartini
Jepara (GP-Ansor): Sekitar lima ribu orang umat muslim dari berbagai penjuru, memadati kompleks Wisata Pantai Kartini Jepara, Kamis (23/4) malam. Mereka memusat di bawah kepala Bangunan Kura-Kura Raksasa, yang saat ini menjadi bagian penting dari sebuah isu besar di Jepara. Didominasi pakaian putih dengan kerudung dan kopiah berwarna senada, mereka memanjatkan permohonan doa, melalui sebuah kegiatan istighotsah. Bupati Jepara Drs Hendro Martojo dan Wabup H Ahmad Marzuki menjadi tamu penting dalam istihotsah tersebut. Sebagian besar pejabat teras Pemkab Jepara juga hadir.
Istihotsah yang digelar oleh GP Ansor Jepara ini mendatangkan Habib Abdulah Ridwan, asal Mayong, Jepara. Menjelang tengah malam, kegiatan ini baru selesai.
Ketua GP Ansor M Jafar menyatakan, kegiatan ini merupakan wujud syukur atas situasi yang terjadi di Jepara paska Pemilu Legislatif. Tidak ada yang khusus dalam istighotsah ini, termasuk kaitanya dengan ramalan Mama Laurent. Istighotsah ini menurutnya merupakan kegiatan rutin bagi umat muslim di Jepara.
”Kalau ada kaitan dengan ramalan itu, barangkali adalah soal tempatnya saja. Kami hanya ingin mengajak masyarakat untuk mengenalkan objek wisata ini. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan ramalan tersebut, sebab nyatanya istighotsah ini berjalan dengan aman dan nyaman,” ujar Jafar.
Sementara itu, Bupati Jepara dalam sambutannya justru dengan jelas memberi penekanan terhadap isu tsunami yang muncul setelah adanya ramalan Mama Laurent tersebut. Ramalan menurut Bupati tetap hanyalah ramalan yang bisa terjadi bisa juga tidak. Namun Bupati berharap atas ramalan tersebut masyarakat tidak panik. Bupati tetap meminta masyarakat untuk berpasrah diri pada Allah SWT.
”Jepara ini tidak berada di garis patahan bumi dan jauh dari gunung berapi. Sehingga kecil kemungkinan akan terjadi gempa yang bisa menimbulkan tsunami. Jadi tidak usah khawatir dengan isu adanya tsunami,” ujar Bupati Jepara, Hendro Martojo dengan menggunakan bahasa Jawa.
Isapan jempol
Ramalan Mama Laurent yang ditafsirkan oleh masyarakat Jepara akan adanya bencana tsunami, mulai mendapatkan reaksi dari beberapa kalangan. Salah satunya muncul dari Wendar Arinugroho, Ketua DPD Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) Jepara. Tokoh yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Win ini meminta masyarakat untuk menyikapi ramalan tersebut dengan akal sehat.
Menurut Gus Win, dari tinjuan ilmiah ramalan Mama Laurent tersebut hanya isapan jempol belaka. Tidak ada bukti-bukti ilmiah yang mendukung pernyataanya itu. Kemudian dari sisi Ilmu Semiotik (Ilmu titen), ramalan tersebut juga tidak disertai dengan tanda-tanda tertentu yang menyertainya.
Kemudian dari sisi Metafisika, ramalan tersebut boleh-boleh saja disampaikan ke masyarakat. Namun demikian, seorang peramal seharusnya bisa memberikan jalan keluar atas ramalan yang dilontarkannya tersebut. Jika ia tidak bisa memberikan jalan keluar, maka lebih baik peramal tersebut tidak usah menyampaikannya ke masyarakat. Karena dampaknya akan menimbulkan keresahan pada masyarakat.
“Ramalan pada dasarnya tetap ramalan. Dia bisa menjadi kenyataan namun bisa saja tidak menjadi kenyataan. Dalam hal ini tergantung siapa yang menanggapi ramalan tersebut. Dalam kasus ini, tentu saja yang paling tepat adalah menanggapinya dengan akal sehat,” ujar Gus Win, Jumat (24/4) pagi tadi.
Ada sisi positif yang bisa diambil dari ramalan tersebut, menurut Gus Win. Sisi positif itu adalah, mengingatkan masyarakat untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Lainnya, isu ini bagaimanapun telah membuat Jepara menjadi lebih dikenal.
“Kalau ramalan saya, Jepara justru akan bertambah makmur jika nanti bangunan kura-kura tersebut benar-benar telah selesai. Itu ramalan saya,” katanya sambil tersenyum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ass terima kasih atas sarannya,insya allah akan kami tindak lanjuti